Membenahi Imajinasi



Rasanya telah lama diri ini berdiam diri dalam keterpurukan. Hanyut dalam suasana gundah dalam ketidakstabilan yang berkeliaran di sekeliling diri, aku hampir kehilangan semua mimpi dan semangat menyambung imajinasi. Kegalauan yang terus terpancar, terluapkan dimana saja berada sampai suatu hari aku bertemu seseorang yang luar biasa, yang kepercayaan dirinya begitu mempesona, ditambah semangat dan senyum yang tak pernah lepas dari raut nya. Awalnya, aku berpikir orang seperti itu tentu punya kehidupan dengan latar belakang yang baik, dengan keluarga dan sanak-saudara yang selalu ada dan setia mendukungnya, dengan kepahitan hidup yang mungkin tak pernah ia rasakan begitu memedihkan, dan kehidupannya berjalan normal, stabil, lancar, dan dapat ia tempuh dengan mudah. Namun, inilah dunia dengan seribu satu misterinya, kau dapat menyembunyikan rasa enggan di balik wajah penurutmu, kau bisa menyembunyikan rasa kesal dibalik wajah pasrahmu, dan kau dapat menyembunyikan tangisan di balik senyum yang kau tebarkan… 

Ia bukan siapa-siapa, hanya seseorang yang terusir dari keluarganya. Ia tak bisa bebas berkeluh-kesah kepada keluarganya, tetapi ia punya banyak keluarga baru dan teman setia di sekelilingnya. Ia tak pernah merasa damai, selalu terbayang-bayang kejadian di masa lalu, menimang-nimang apakah perbuatannya benar atau salah, keputusannya tepat atau tidak. Ia sering merenung, tetapi ia akan tampak selalu ceria di hadapan siapa saja yang ia temui. Ia berjalan dengan percaya diri, penuh semangat menatap hari, bersama Allah ia yakin semua akan baik-baik saja. Dalam kondisi seperti itu, siapa sangka dalam dirinya pun bersemayam kerapuhan, harap bercampur ketakutan. Wajahnya tampak sendu ketika berdoa setelah sholat, air mukanya menggambarkan kesedihan yang tak tertahankan, tapi keyakinannya kepada Rabb-nya begitu besar, mengalahkan segala kesedihan itu sehingga ia kembali tersenyum, penuh ketulusan. Bersemayamnya kerapuhan, bukan tanda ia tak kuat, tetapi itu hanya fitrahnya sebagai manusia yang lemah. Sosoknya tetap sabar dan kuat, tak gentar terhadap apa pun.

Hari itu, ketika ia mulai membuka cerita kepadaku, tentulah aku tak menyangka. Beberapa hari ku perhatikan, dan benar, ia memang berhasil menyembunyikan kedukaannya, ia tampak wajar dan hidup stabil. Akan tetapi itu semua tentu tidak mengecohku lagi, karena aku dapat menangkap apa yang tersirat di balik semua yang ia tampakkan. Ia memberiku kekuatan, bahwa posisi ku sekarang tentu jauh lebih baik dari apa yang ia rasakan, lebih nyaman, dan aku tak perlu mengeluhkannya. Ya, saat kita terpuruk, kita harus melihat ke bawah, bahwa ada orang yang lebih terpuruk lagi, yang lebih menderita… Tak perlu lama-lama meratapi diri, segala mimpi, segala cita, penuh semangat kembali ku rajut lagi. Aku takkan menyerah walau harus memulai dari nol lagi. Ku benahi segala yang salah selama ini, sistem hidup yang ku buat selama ini mungkin terlalu naïf dan hanya melupakan diri. Tak kan lari lagi, kini ku hadapi… 

**n_n** 


Rabb, mungkin terlalu lama aku mencoba mengerti hidup ini..
bahwa jalan yang ku lalui tak kan selalu mudah untuk di lewati..
Banyak rintangan yang menghadang, duri-duri yang bertebaran..
tetapi aku harus kuat karena berhenti tiada arti…

Kuatkanlah..
Bimbinglah..
Rabbi… 

 **n_n**

Share on Google Plus

About Nayla Dyayu

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 komentar:

  1. Semoga Allah selalu memberikan kebaikan dlm setiap langkah kehidupan kita, tetap semangat. Allahu Akbar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah kak..

      Allahu Akbar...

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.